Ummu ‘Imarah berbicara

Dia mengetahui bahwa kebaikan dan keburukan mempunyai batas waktunya masing-masing 

   Nasibah binti Ka’ab alias Ummu ‘Imarah RA menceritakan pengalamannya dalam perang Uhud:
“Aku keluar pada permulaan siang hari untuk melihat apa yang dilakukan oleh pasukan kaum muslim, sedang aku membawa timba berisikan air. 

Selanjutnya, sampailah ke tempat Rasulullah SAW yang ada diantara para sahabatnya dan saat itu keadaan perang dikuasai oleh pasukan kaum muslim.
   Ketika pasukan kaum muslim terpukul, aku bergabung dengan Rasulullah SAW dan ikut terjun ke medan perang melindungi diri Rasul dengan pedangku dan melepaskan anak-anak panahku dari busurnya ke arah musuh, sehingga aku sendiri terluka. 

   Ketika kaum muslim lari meninggalkan Rasulullah SAW, datanglah Ibnu Qumai’ah seraya sesumbar: ‘Tunjukanlah aku kepada Muhammad, jika dia selamat, aku pasti tidak akan selamat!’

 Maka kuhadang dia bersama dengan Mush’ab bin ‘Umar. Dia berhasil melukai pundakku dan aku pun melakukan pukulan bertubi-tubi ke bagian yang sama dari tubuh Ibnu Qumai’ah, tetapi musuh Allah itu mengenakan baju besi dua lapis.”
   Inilah perjuangan yang dilakukan oleh Ummu ‘Imarah yang dipuji oleh Rasulullah SAW melalui sabdanya:  
“Tidaklah sekali-kali aku menoleh, baik ke arah kanan maupun ke arah kiri, dalam peperangan Uhud, melainkan aku melihatnya sedang bertempur melindungiku.” 

Hindarilah hiruk-pikuk, karena sesungguhnya hiruk-pikuk berakibat melelahkan dan memayahkan, dan menjauhlah dari cacian, karena sesungguhnya cacian itu menyakitkan.

Artikel Menarik Lainnya:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ads

Populer