Kalbu orang-orang yang merindukan surga

Berbahagialah engkau dengan hidup ini sebelum mati 
dan petiklah bunga itu sebelum musim gugur.

   Pernahkah anda mendengar istri Shalih bin Huyayyin? Sesungguhnya dia adalah seorang wanita yang telah ditinggal mati oleh suaminya dan mempunyai dua orang anak laki-laki.

 Ketika kedua anaknya telah besar dan menjadi pemuda, mula-mula pelajaran yang ia berikan kepada mereka adalah hal-hal yang berkaitan dengan ibadah, amal ketaatan dan shalat sunnah malam hari.

   Sesungguhnya dia mengatakan kepada kedua anaknya:
“Janganlah sekali-kali kita lewatkan suatu saat pun dari malam hari dalam rumah kita, melainkan harus ada orang yang berdiri mengingat Allah SWT (shalat sunnah malam hari).”

Kedua putranya berkata:
“Wahai ibunda tercinta, jelaskanlah kepada kami apa yang engkau kehendaki?”

   Sang ibu berkata:
“Kita bagi malam hari antara sesama kita menjadi tiga bagian. Seseorang diantara kalian berdua melakukannya pada sepertiga yang pertama, kemudian yang lain melakukannya pada sepertiga yang kedua, dan terakhir ibu sendiri yang melakukan qiyam pada sepertiga yang terakhir. Selanjutnya, Ibu bangunkan kalian berdua untuk sama-sama menunaikan shalat shubuh.”

   Keduanya menjawab:
“Kami dengar dan kami taati perintah ibu.”
Setelah ibu mereka berdua meninggal dunia, kedua anaknya tidak pernah meninggalkan qiyamul lail, karena cinta ketaatan dan ibadah memenuhi kalbu mereka berdua, dan saat-saat yang paling manis dalam kehidupan mereka berdua adalah manakala mereka mengerjakan qiyamul lail.

 Mereka membagi dua malam harinya antara mereka berdua. Ketika salah seorang diantara keduanya mengalami sakit keras, maka saudara yang satunyalah yang melakukan qiyamul lail seluruhnya.

Kehidupan yang ada di sekitar kita dengan tampilannya yang indah lagi mulia sebenarnya mengajak kita untuk berbahagia.

Artikel Menarik Lainnya:

Suatu kalimat yang memenuhi dimensi ruang dan waktu

Wahai Tuhan tempat mengadu orang yang dilanda kesedihan dan kecemasan, Engkaulah yang mempersiapkan segala sesuatu yang akan terjadi.

Musa AS berkata: “Ya Tuhanku, ajarilah daku suatu doa agar aku dapat berdoa dan bermunajat kepada-Mu.”

Allah berfirman: “Hai Musa, katakanlah: ‘Laa ilaaha illallah.’ (Tiada Tuhan yang berhak disembah, selain Allah)”

Musa berkata: “Semua orang mengucapkan laa ilaaha illallah.”

Allah berfirman: “Hai Musa, seandainya tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi dalam suatu sisi timbangan, sedang dalam sisi yang lain terdapat kalimat Laa ilaaha illallah, niscaya sisi yang ada kalimat laa ilaaha illallah akan lebih berat.”

   Kalimat laa ilaaha illallah mempunyai cahaya gemerlapan dan sinar terang yang dapat mengusir kabut dan awan dosa sesuai dengan kekuatan dan kelemahan sinarnya.

 Ia mempunyai cahaya yang berbeda-beda kekuatannya sesuai dengan kekuatan dan kelemahan hati pelakunya. Tiada yang dapat menghinggakannya, selain hanya Allah SWT.

   Di antara manusia ada sebagian orang yang cahaya kalimat ini dalam kalbunya bagaikan matahari, sebagian yang lain cahaya dalam kalbunya dari kalimat ini bagaikan bintang-bintang yang gemerlapan, sebagian yang lain cahaya dalam kalbunya dari kalimat ini bagaikan api yang besar, dan sebagian yang lain bagaikan pelita yang kuat penerangnya, sedang sebagian yang lainnya lagi bagaikan pelita yang lemah penerangannya.

   Setiap bertambah besar dan bertambah kuat cahaya kalimat ini dalam kalbu seseorang, maka semakin membakarlah ia terhadap semua keraguan dan nafsu syahwat yang bercokol dalam hatinya sesuai dengan kekuatan dan kekerasan arus radiasinya.



Kebahagiaan seorang mukmin adalah dengan cinta kepada Allah dan cinta karena Allah merupakan kebahagiaan yang mempunyai pengertian yang lebih dalam daripada semua makna yang terdalam.

Tiada yang dapat merasakan citranya, kecuali hanya orang mukmin yang benar, yaitu mereka yang tidak mau menerima ganti selain-Nya.

Artikel Menarik Lainnya:

Adakalanya Allah mengembalikan orang yang pergi jauh

Ya Tuhanku, mula-mula hal yang dikatakan oleh hati kecilku adalah:
“Aku selalu ingat kepada-Mu, baik dalam batinku maupun dalam lahirku.”

Sesudah perpisahan selama lebih dari 20 tahun, Allah mempertemukan kembali dalam suatu kisah yang aneh alurnya antara seorang ibu dan anak perempuannya yang telah berusia 25 tahun, sesudah kondisi hidup memisahkan keduanya.

Pertemuan ini terjadi saat sang anak perempuan sedang menjalani bulan madu di tempat rekreasi di pegunungan As-Saudah yang terletak di Ab-ha.

Disebutkan bahwa ibunya telah menikah lagi setelah bercerai dari suami pertamanya yang saat itu usia anak perempuan tersebut baru 3 tahun.

Kondisi suami kedua yang selalu berpindah-pindah dari suatu kota ke kota yang lain menghalangi sang ibu untuk menjenguk putri yang ditinggalkannya dalam pemeliharaan bapak (suami pertama)nya.

Pada suatu hari pada musim panas yang indah di pegunungan As-Saudah yang terletak di Ab-ha, sang anak perempuan bersua dengan seorang ibu di tempat rekreasi tersebut.

Keduanya berbincang-bincang, sedang mereka tidak mengenal asal-usul masing-masing, dan sang ibu telah meninggalkan putrinya saat masih berumur 3 tahun.

 Ketika keduanya sedang asik mengobrol, tiba-tiba sang ibu melihat salah satu jari tangan wanita yang diajaknya mengobrol ternyata telah putus.

Sang ibu menanyakan kepada wanita itu perihal ibunya, maka wanita itu menceritakan kisah yang dialaminya sejak kecil kepada sang ibu.

 Ternyata sang ibu menjumpai dirinya sedang berhadapan dengan anak perempuannya yang telah hilang darinya sejak 20 tahun yang silam.

Saat itu juga sang ibu memeluknya dan menciumi wajah anak perempuannya serta memeluknya kembali dengan penuh kasih sayang dan menumpahkan kerinduannya kepada anak perempuan yang selama puluhan tahun silam tidak pernah dijumpainya.


Sesungguhnya memikirkan kebahagiaan pasti akan membuat yang bersangkutan memikirkan apa yang telah terjadi sebelumnya dan apa yang bakal terjadi sesudahnya, padahal sikap seperti ini dapat merusak rasa kebahagiaan itu sendiri.

Artikel Menarik Lainnya:

Memelihara kehormatan dan rasa malu akan menambahkan kecantikan wanita yang cantik


Manakala hati ini menjadi keras dan semua jalanku terasa sempit, kujadikan harapanku kepada ampunan-Mu sebagai tangga keselamatan.


   Bukankah telah datang kepada anda berita tentang Ummu Salamah RA, istri Nabi SAW, saat ia mendengar suaminya bersabda: 
“Barang siapa yang menyeret kainnya karena sombong, maka Allah tidak akan memandangnya pada hari Kiamat nanti.”

Ummu Salamah bertanya: 
“Bagaimanakah kaum wanita harus berbuat terhadap ujung kainnya?” 

Nabi SAW menjawab: 
“Hendaklah mereka menjulurkan sejengkal.”

Ummu Salamah bertanya: 
“Kalau begitu, mata kaki mereka akan kelihatan.”

Nabi SAW menjawab: 
“Maka hendaklah mereka menjulurkannya sehasta dan tidak boleh lebih.”

   Alangkah baiknya engkau, wahai Ummul Mukminin!
Alangkah baiknya engkau, wahai Ummu Salamah. 
Meskipun kaum wanita mukmin bukan termasuk orang-orang yang congkak dan bukan pula orang-orang yang sombong, melainkan mereka adalah kaum wanita yang mencintai suami-suami mereka, memelihara kehormatannya, suci dan terhormat, tidaklah pantas bila mata kaki mereka kelihatan.
 
Untuk itu, kain yang mereka kenakan harus memiliki sedikit ekor yang mereka seset di atas tanah di belakang mereka agar kaum lelaki tidak dapat melihat sesuatu pun dari bagian tubuh mereka.

   Berbeda halnya dengan kaum wanita masa kita sekarang ini, kecuali sebagian orang yang dirahmati oleh Tuhan anda maka sesungguhnya sikap mereka dalam berpakaian kebalikan dari apa yang telah disebutkan di atas. 
Mereka justru mengangkat tinggi-tinggi menurut selera mereka karena takut basah atau takut debu.
 Bahkan bila perlu, mereka tega menanggalkannya karena mengikuti cara berpakaian wanita-wanita kafir yang mengobral kecantikan tubuhnya. 
Mereka punya beribu alibi untuk menguatkan alasan cara pakaian buka-bukaan dan keseronokan yang mereka gemari.
Benar-benar tiada daya dan tiada upaya, kecuali dengan pertolongan Allah. 
Adapun kaum pria, mereka tidak punya rasa cemburu sama sekali, kecuali hanya tinggal namanya sebagai pria. Kaum pria berjalan di samping mereka yang berpakaian buka-bukaan itu tanpa mempedulikannya. Sesungguhnya rasa malu benar-benar telah hilang dari mereka.

Seseorang masih hidup dengan baik selama punya rasa malu
Sebagaimana batang kayu masih akan tetap lestari
Selama terbungkus oleh kulitnya
Tidak, demi Allah, tiada kebaikan bagi hidup ini
Dan tiada pula bagi dunia ini
Apabila rasa malu telah sirna darinya


Kerehatan fisik dapat diraih dengan sedikit makan,
Kerehatan jiwa dapat diraih dengan mengurangi dosa-dosa,
Kerehatan kalbu dapat diraih dengan mempersedikit kesibukan,
Dan kerehatan lisan dapat diraih dengan sedikit bicara.

Artikel Menarik Lainnya:

Rumah tangga tanpa emosi, tanpa kegaduhan dan tanpa kelelahan

Seorang pemuda yang berhati teguh lagi cerdas bila kehilangan sabarnya, ia tidak kehilangan permintaan maafnya.

   Seorang wanita mengadu kepada ayahnya seraya menangis: 
“Wahai ayahku, tadi malam telah terjadi sesuatu antara diriku dan suamiku, dan suamiku marah karena perkataan yang telah kukatakan. 
Ketika kulihat dia marah, aku menyesali perbuatanku, lalu aku meminta maaf kepadanya. 
Akan tetapi, ia enggan berbicara denganku, bahkan memalingkan mukanya dariku.
Akupun berputar disekitarnya untuk menghadapi wajahnya. Akhirnya, dia tertawa dan memaafkanku, padahal aku merasa khawatir bila Tuhanku nanti menghukumku karena telah membakar beberapa tetes darah suamiku saat kubuat dia terbakar oleh emosinya.”

   Ayahnya berkata kepadanya: “Wahai anakku sayang, demi Tuhan yang diriku berada dalam genggaman kakuasaan-Nya, sekiranya engkau mati sebelum suamimu memaafkanmu, tentulah aku pun tidak ridha kepadamu. Tahukah engkau bahwa siapa pun wanita bila suaminya marah kepadanya, maka dia adalah wanita yang terkutuk dalam Kitab Taurat, Kitab Injil, Kitab Zabur, dan Kitab Al-Qur’an, dan bila menghadapi sakaratul maut, ia akan diperkeras dan dipersempit kuburnya. Karenanya, beruntunglah wanita yang di ridhai oleh suaminya.”

   Wanita yang shalih adalah wanita yang antusias untuk meraih cinta suaminya. 
Dia tidak pernah memperlihatkan penampilan yang membuat nuansa kehidupan keduanya menjadi keruh.
Berikut ini adalah untaian bait-bait syair yang dikatakan oleh seorang suami saat menasehati istrinya:

Maafkanlah kesalahanku,
Niscaya engkau kekalkan cintaku kepadamu
Dan janganlah engkau bicara saat kemarahanku sedang memuncak

Janganlah sekali-kali kau kipasi kemarahanku,
Seperti engkau memukul rebana
Karena sesungguhnya engkau tidak mengetahui
Bagaimana sikap orang yang tidak terkendali

Jangan engkau banyak mengeluh,
karena ia akan mengikis cinta dan hatiku ini akan berubah menolakmu,
Karena tabiat hati itu tidak tetap

Sesungguhnya kulihat cinta dalam hati ini
Bila berpadu dengan rasa benci dalam waktu yang singkat
Rasa cinta itu akan hilang


Usirlah bayangan kegagalan dan biarkanlah ia berada diluar hatimu

Artikel Menarik Lainnya:

Kekosongan waktu akan menjerumuskan pelakunya pada hal-hal yang kotor

Tidak seluruhnya yang dicita-citakan seseorang dapat diraih.
Angin bertiup kearah yang tidak disukai oleh perahu.

   Dalam pelukan pengangguran akan terlahirkanlah ribuan hal yang kotor dan akan timbul fermentasi kuman-kuman yang memusnahkan dan membinasakan. 
Apabila kerja keras merupakan misi yang dibawa oleh makhluk yang hidup, maka pengangguran bagaikan makhluk yang telah mati.

   Apabila dunia kita ini diumpamakan sebagai lahan untuk menanam kehidupan yang kesudahannya lebih besar manfaatnya, maka sesungguhnya para pengangguran adalah orang-orang yang lebih pantas untuk dihimpunkan bersama dengan orang-orang yang bangkrut usahanya, tiada yang dapat mereka petik dari sikapnya, selain kehancuran dan kerugian.

   Sesungguhnya Nabi SAW pernah mengingatkan kepada ribuan orang yang terlena dalam kelalaiannya dengan dua jenis nikmat yang dikaruniakan kepada mereka, yaitu nikmat kesehatan dan waktu luang.
 Untuk itu, Beliau SAW bersabda:
  “Ada dua jenis nikmat yang dilupakan oleh kebanyakan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang.”

  Memang benar, banyak orang yang sehat fisiknya mengalami keguncangan dalam bahtera hidup ini karena tiada cita-cita yang didambakannya, tiada pekerjaan yang ditekuninya, dan tiada misi yang dengan tulusnya ia gunakan usianya untuk menyukseskannya.

   Apakah untuk ini manusia diciptakan? Sekali-kali tidak demikian. Allah SWT telah berfirman dalam Kitab-Nya: 
“Maka apakah kamu mangira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenarnya.” (QS.23:115)

  Sesungguhnya hidup ini diciptakan dengan benar, begitu pula bumi dan langit serta semua yang ada diantara keduanya. 
Manusia di alam dunia ini harus mengenal baik arti kebenaran ini dan menghayatinya.

   Adapun jika seseorang menjerumuskan dirinya ke dalam gema ledakan nafsu syahwatnya yang sempit dan mengurung dirinya dalam kerangkengnya dalam keadaan lalai terhadap segala sesuatu yang berguna bagi dirinya, maka alangkah buruknya tempat yang dipilihnya untuk masa kini dan masa mendatangnya.

Hobi menumpuk harta tidak akan ada habis-habisnya

Bawalah semua dunia kalian dan biarkanlah hatiku bebas merdeka sendirian

   Payfer Brook mengatakan dalam pengakuannya:
   “Sesungguhnya aku telah menghimpun banyak harta, tetapi kulihat dari realita pengalamanku bahwa berkelanjutan dalam permainan ini, yaitu hobi menumpuk harta, merupakan permainan yang berbahaya, dan tidak akan ada habis-habisnya.

Bahkan ia akan menelan usia dan kebahagiaanya sekaligus. 
Untuk itulah, saya beralih profesi dan menyalurkan kegiatanku pada pekerjaan lain yang kusukai, yaitu dibidang penerbitan. 
Sekalipun tidak mendatangkan uang yang banyak, pekerjaan ini dapat merealisasikan kebahagiaan bagiku dan pelayanan kepada masyarakat.

Oleh karena itu, saya sarankan kepada setiap pebisnis yang telah menghimpun harta banyak agar menghentikan kegiatan menumpuk hartanya.
Hendaklah ia mengambil pensiun dini untuk menikmati apa yang telah dihasilkannya, lalu beralih pada pekerjaan sosial untuk melayani masyarakat sekaligus menikmati waktu yang dijalani.”

Sesungguhnya orang yang berharta dari hasil keringat sendiri dan mempunyai banyak kepemilikan, tiada yang terpikirkan dalam benaknya, kecuali hanya sedikit hal,
yaitu keinginan meninggalkan harta yang banyak untuk para pewarisnya, meskipun dia menyadari bahwa mereka akan menjadi orang-orang yang lebih utama jika turun dalam kancah kehidupan mereka terlepas dari kekayaan dan tidak memilikinya, kecuali hanya pikiran dan akhlaq.
 
Sesungguhnya kekayaan yang dihasilkan tanpa jerih-payah kebanyakan berubah menjadi laknat, bukan nikmat, dan menjadi kesengsaraan, bukan kebahagiaan. 
Demikianlah karena pemiliknya akan memuaskan fisik mereka dengan kemewahan dan kemalasan, dan akal mereka akan dipenuhi oleh hal-hal yang sepele dan kekosongan waktu. 
Mereka memakai kedok kemudaan yang bercahaya hingga mati.

Kokohkanlah keimanan anda bahwa tiada hal yang mustahil dalam kehidupan ini.

Artikel Menarik Lainnya:

Sikap tergesa-gesa dan membabi-buta akan mengakibatkan kesengsaraan

Cita-cita itu bila benar akan menghasilkan hal yang terbaik, jika tidak terealisasi, maka paling tidak, kita telah menghabiskan sebagian dari usia kita yang indah dengannya.

   Sikap santun tak ubahnya bagaikan keahlian jenis yang canggih dalam menundukan kuda yang binal. 
Dengan berbakal ini, seseorang dapat mengalahkan emosi, ketololan dan hawa nafsu dirinya.
Adapun sikap hati-hati artinya sama dengan teliti dan tidak tergesa-gesa serta menangani sesuatu dengan pemikiran dan kebijakan. 
Kedua pekerti ini adalah senjata yang dapat memerangi kecemasan. 
Barang siapa yang tidak memiliki keduanya, maka ia akan mengalami banyak kehilangan kebaikan dan terancam oleh kecemasan.

   Sesungguhnya orang yang santun, dengan sikap santunya ia dapat menolak banyak kejahatan.
 Berbeda dengan orang yang tolol lagi emosional, maka sesungguhnya ia akan menjadikan kejahatan makin bertambah besar dan dorongan yang menimbulkan kecemasan makin bertambah kuat akarnya. 
Seseorang yang bersikap hati-hati jarang menyesal atau jarang melakukan urusan yang kesudahannya penuh dengan kemisterian.

 Berbeda halnya dengan orang yang tolol lagi tergesa-gesa, maka sesungguhnya penyesalan, kecemasan dan kesudahan yang buruk akan selalu menemaninya. 
Seorang manusia yang mengasihani dirinya dan diri orang lain adalah orang yang pandai membiasakan dirinya bersikap tenang dan berhati lapang dan senang.

Agama kita, yaitu agama Islam yang hanif (lurus), menganjurkan untuk bersikap lembut, penyantun dan perlahan-lahan (hati-hati). 
Sehubungan dengan hal ini, Rasulullah SAW telah bersabda:
“Sesungguhnya kelembutan itu tidak sekali-kali terdapat pada sesuatu, melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, melainkan akan memperburuknya.”

Kebahagiaan itu tidak dapat dibeli dengan harta

Hawa nafsu akan terus menuntut bila engkau memanjakannya, tetapi jika engkau paksakan ia pada apa adanya, niscaya ia mau menuruti kehendakmu

   Banyak orang yang mengorbankan masa muda dan kesehatan mereka demi menghimpun harta. 
Selanjutnya, mereka hidup disisa usianya dengan membelanjakan harta yang telah mereka upayakan untuk meraih kebahagiaan, tetapi yang mereka dapati justru kesengsaraan.
Atau mereka berupaya untuk mengembalikan masa mudanya, tiba-tiba ketuaan menyerang mereka, atau mereka berupaya untuk tetap sehat, tetapi tiba-tiba penyakit yang sulit disembuhkan menimpa diri mereka.

   Berikut ini adalah kisah seorang bintang film terkenal yang mengatakan bahwa cita-cita sepanjang hidupnya hanyalah meraih harta sebanyak-banyaknya.
 
Begitu terobsesi oleh harta benda yang dimilikinya hingga membuatnya berpandangan bahwa dengan hartanya, dia mampu menjadi lelaki yang paling bahagia di dunia selama 100 tahun.
   
   Dia merasa yakin bahwa dengan harta yang dimilikinya dirinya dapat merealisasikan semua yang diangan-angankannya dan mampu mewujudkan semua yang diangankan dan diimpikannya serta dunia bertekuk lutut dihadapannya.

   Selang 20 tahun kemudian Allah memberinya harta benda yang berlipat kali jumlahnya dari apa yang diangan-angankan sebelumnya, tetapi kesehatan, kemudaan, dan impiannya diambil darinya. 

Menurut pengakuan yang dinukil darinya, bahwa dia sering menangis sendiri dan mengatakan:
 
“Aduhai sekiranya aku dahulu tidak meminta harta yang berlimpah kepada Allah. Aduhai sekiranya aku dahulu meminta hidup 100 tahun dalam keadaan fakir hingga dapat makan kacang rebus dan bergelantungan di tangga trem agar tidak membayar karcis.”

   Bintang film terkenal ini masih belum mengenal arti nilai kesehatan, kecuali setelah merasa kehilangan kesehatan. 

Ia masih belum menemukan bahwa harta tidak mampu memberikan segala sesuatu yang diinginkannya, kecuali sesudah ia menjadi artis yang terkaya di Mesir dan sesudah mengenal bahwa semua harta yang dimilikinya tidak dapat menambah barang sehari pun dari usianya yang telah diambil.
 

Tidaklah pantas seseorang menyia-nyiakan separoh usianya untuk persaingan.

Artikel Menarik Lainnya:

Jangan buang-buang waktu anda dengan percuma

Kita akan makin bertambah susah manakala makin bertambah kaya.
Kesedihan yang terparah ialah bila kita berlebih-lebihan

   Nabi SAW pernah bersabda kepada ‘Aisyah ra (dalam peristiwa berita bohong):
“Jika engkau merasa pernah berbuat suatu dosa, mohonlah ampunan kepada Allah dan bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya seorang hamba itu apabila mau mengakui dosanya, maka Allah akan menerima taubatnya.”
 
   Dapat anda bayangkan sekiranya anda telah memiliki semua harapan yang diimpi-impikan dan meraih semua cita-cita yang anda inginkan, kemudian mendadak lenyap semua itu dari anda tanpa bekas. 
Saat itu anda pasti akan menangis, merasa sakit, kecewa dan gigit jari karena menyesali semua yang lepas dari tangan anda. 
Maka bagaimanakah dengan usia anda yang telah anda sia-siakan tanpa anda sadari?

   Sesungguhnya umur anda adalah permata yang sangat berharga lagi tidak dapat ditukar dengan suatu yang bersifat materi. 
Umur ini pada hakikatnya berupa hembusan nafas, setiap hembusan nafas yang keluar dari anda selamanya tidak akan kembali lagi kepada anda.
 
   Hembusan nafas ini merupakan modal utama anda di dunia ini yang dengannya anda dapat membeli apa yang anda sukai dari kesenangan surga. 
Maka mengapa anda menyia-nyiakan usia yang sangat berharga tersebut tanpa melakukan taubat yang mulus?

Disana ada satu jalan yang dapat menghantarkan kepada kebahagiaan, Yaitu berhenti dari memikirkan berbagai hal yang tidak ada kemampuan bagi kita untuk menguasainya.

Artikel Menarik Lainnya:

Kisah seorang wanita yang membuat keajaiban

Engkau hanya melihat duri pada tangkai mawar, tetapi tidak mau melihat tetesan embun yang menghiasi bagian atasnya.

   Amirul Mukminin, ‘Utsman bin ‘Affan RA, mengangkat Hubaib bin Maslamah Al-Fihri sebagai panglima pasukan kaum muslim untuk memberikan pelajaran kepada tentara Romawi yang sering mengganggu kaum muslim di daerah perbatasan.
 
   Disebutkan pula bahwa istri Hubaib termasuk di antara tentara yang tergabung dalam pasukan kaum muslim ini. Sebelum peperangan dimulai, Hubaib memeriksa terlebih dahulu barisan pasukannya. 

Tiba-tiba dia melihat istrinya mengajukan pertanyaan berikut:
  “Di manakah aku akan menjumpaimu bila peperangan sedang memuncak dan semua barisan terlibat dalam perang yang berkecamuk?”

   Hubaib menjawabnya seraya mengatakan:
  “Engkau akan menjumpaiku di dalam kemah panglima pasukan Romawi atau di dalam surga nanti.” 

Ketika pertempuran berkecamuk dengan sengitnya, Hubaib bersama orang-orang yang mengikutinya berperang dengan keberanian yang luar biasa. 
Allah memenangkan pasukan kaum muslim atas pasukan Romawi, lalu Hubaib segera menuju ke kemah panglima pasukan Romawi menunggu kedatangan istrinya.

   Ketika ia sampai di pintu kemah, ia melihat suatu pemandangan yang menakjubkan. 
Ternyata ia menemui istrinya telah mendahului masuk ke dalam kemah panglima pasukan Romawi sebelum ia sampai ke dalamnya.

Seandainya semua wanita seperti istri Hubaib ini, tentulah aku lebih memprioritaskan kaum wanita atas kaum laki-laki.
Hidup ini tidak sulit dan tidak pula mustahil selama di sana ada kemampuan untuk melakukan pekerjaan dan pergerakan.

Artikel Menarik Lainnya:

Jadilah anda seorang wanita yang berjiwa indah, karena sesungguhnya alam ini indah

Janganlah engkau mengeluh karena bencana malam hari, sesungguhnya bencana dunia itu tiada yang kekal.
(Diwan Syafi’I, pent.)

   Pemandangan bintang-bintang di langit sangat indah. ini tiada yang meragukannya, begitu indahnya hingga memikat hati. 
Keindahan selalu aktual lagi beragam warnanya seiring dengan waktunya masing-masing. 
Berbeda-beda penampilannya dari pagi hingga petang, dari terbit hingga tenggelam, dari bulan purnama hingga malam yang gelap, dari pemandangan yang jernih hingga pemandangan yang berkabut dan berawan. 
Bahkan sesungguhnya penampilannya berbeda-beda dari satu saat ke saat yang lain, dari satu teropong ke teropong yang lain, dan dari suatu sudut ke sudut yang lain. 
Semuanya indah belaka dan semuanya begitu memikat hati.

   Bintang yang terlihat menyendiri nun jauh disana bagaikan mata yang indah berkilauan memancarkan kecintaan dan seruan. 
Kedua bintang lainnya yang terpisah di sana terlihat membebaskan dirinya dari persaingan seakan-akan berbicara berbisik antara keduanya.

   Sekumpulan bintang yang bertebaran disana-sini bagaikan kumpulan orang-orang yang begadang nun jauh di sana di cakrawala langit.
Rembulan yang pada awal kemunculannya di suatu malam terlihat kecil, selanjutnya berangsur-angsur membesar pada malam-malam berikutnya, hingga sampai pada puncak kebulatannya terlihat begitu cerah. 
Sesudah itu ia mulai berkurang dan mengecil, hingga terlihat bagaikan di awal kemunculannya dan di malam terakhirnya ia hampir tidak muncul sama sekali.

   Angkasa yang luas ini terlihat begitu indah. pemandangannya yang begitu luas tidak membosankan mata yang memandangnya dan tidak dapat di capai oleh pandangan mata, karena jaraknya yang begitu jauh.

   Sesungguhnya keindahan belakalah yang terlihat, yaitu keindahan yang dapat dirasakan dan dihayati oleh manusia, tetapi tidak mampu di ungkapkan oleh kata-kata untuk menggambarkan keindahan yang begitu memukau.

   Anda harus menerima kenyataan yang tak dapat dielakkan. Bila anda menerimanya dengan hati cemas, sesungguhnya kecemasan itu tiada gunanya bagi anda.

Artikel Menarik Lainnya:

Shadaqah dapat menolak bencana

Pada tiap-tiap sesuatu terdapat tanda yang menunjukan bahwa Allah itu Esa.
 
  Shadaqah adalah salah satu diantara pintu besar yang memberikan kelapangan dada dan kelegaan hati. 
Sesungguhnya mendermakan kebajikan akan dibalasi oleh Allah pelakunya didunia ini dengan kelapangan dada, selalu senang dan gembira, dan Allah akan memberinya cahaya, melegakan hatinya dan memakmurkan keadaannya.

  Oleh karena itu, bershadaqahlah sekalipun mampunya hanya sedikit dan janganlah anda meremehkan sesuatu yang akan ada shadaqahkan, baik berupa sebiji buah kurma, sesuap makanan, seteguk air, atau seteguk susu. 
Hadiahkanlah sesuatu kepada orang miskin, berilah orang yang sengsara, beri makanlah orang yang lapar, dan jenguklah orang yang sakit. 
Apabila anda telah melakukannya, niscaya anda akan menjumpai bahwa Allah SWT akan meringankan kesusahan, kegundahan dan kesedihan anda. 
Sesungguhnya shadaqah adalah obat yang tidak dapat ditemukan, kecuali hanya dalam apotik islam.

  Seorang lelaki bertanya kepada Imam ‘Abdullah bin Mubarak: “Wahai Abu ‘Abdur Rahman, tumitku menderita borok sejak tujuh tahun yang lalu dan aku telah mendatangi berbagai tabib serta kuobati dengan berbagai macam pengobatan, tetapi belum sembuh juga.”

  Ibnul Mubarak berkata kepadanya: 
“Pergilah engkau ke suatu tempat yang penduduknya sangat memerlukan air, lalu buatlah sebuah sumur di sana untuk mereka. Sesungguhnya aku berharap semoga sumur yang engkau buat di sana akan menyumberkan air dan pendarahan yang di alami oleh luka borokmu akan terhenti.” 

Selanjutnya, lelaki itu melakukan apa yang telah disarankan oleh Ibnul Mubarak, maka tidak lama kemudian boroknya sembuh.

  Tidaklah mengherankan, wahai saudariku yang mulia, karena sesungguhnya Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda: 
“Obatilah para pasien kalian dengan (menganjurkan untuk) shadaqah.”

Dalam hadits lain disebutkan bahwa beliau SAW pernah bersabda: 

Wanita calon penghuni surga

Sesungguhnya Tuhan yang memberimu kecukupan pada hari kemarin, 
Dia pulalah yang akan memberi kecukupan kepadamu pada hari esokmu. 

Dari ‘Atha’ bin Abi Rabah, ia berkata:
Ibnu ‘Abbas pernah berkata kepadaku: “Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita calon penghuni surga.”

Aku menjawab: “Tentu saja.”

Ia berkata: “Inilah dia wanita berkulit hitam, yang pernah datang kepada Rasulullah SAW, lalu berkata: ‘Aku menderita penyakit ayan dan aku sangat khawatir jika auratku tersingkap saat penyakitku sedang kumat, maka berdo’alah engkau untukku kepada Allah (agar Dia berkenan menyembuhkan penyakitku).’ 

Rasulullah SAW pun bersabda:
“Jika engkau mau bersabar, engkau akan memperoleh surga. Namun jika engkau mau sembuh, aku akan berdoa agar Allah SWT menyembuhkan penyakitmu.”

Wanita tersebut berkata: ‘Aku lebih memilih untuk bersabar saja.’ 

Dia berkata lagi: ‘Akan tetapi aku sangat khawatir jika auratku tersingkap saat penyakitku sedang kumat. Karenanya, tolong doakan aku agar auratku tidak tersingkap saat penyakitku kumat.’
Rasulullah SAW pun berdoa untuk wanita tersebut.” (Muttafaq ‘alaih) 

Wanita ini adalah seorang yang mukmin lagi bertaqwa. 
Dia ridha dengan cobaan yang selalu menimpanya dalam kehidupan dunia yang fana ini karena mengharapkan surga sebagai imbalannya.
Sesungguhnya dia beroleh keuntungan dalam jual belinya sehingga ia menjadi calon penghuni surga.
 Akan tetapi, dia menolak bila orang lain melihat auratnya saat dalam keadaan ayan, karena hal ini tidak layak bagi seorang wanita muslim yang pemalu lagi bertaqwa. 

Sesudah itu apa yang harus kita katakan kepada wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yaitu mereka yang mahir dalam seni memperlihatkan kecantikan tubuhnya, bahkan berupaya keras untuk menanggalkan kerudung malunya dan berupaya keras untuk membuka bagian-bagian yang memikat lawan jenisnya. 

Hentikanlah kecemasan anda, tegarlah dan hadapilah kenyataan dengan hati yang tabah. Berbuatlah sesuatu agar anda tetap hidup.

Artikel Menarik Lainnya:

Wanita yang baik adalah yang menghindari bencana masa

Masa itu mempunyai dua keadaan yang silih berganti, yaitu masa sulit penuh cobaan dan sisi lainnya adalah masa senang penuh dengan kemakmuran.

  Buku-buku sejarah telah menyebutkan dari Fatimah Az-Zahra RA binti Rasulullah SAW bahwa ia sering menahan lapar selama beberapa hari. Pada suatu hari suaminya, yaitu Imam ‘Ali RA, melihat istrinya bermuka pucat,

lalu ia bertanya: “Wahai Fatimah, apakah gerangan yang engkau alami?”

Fatimah menjawab: “Sejak tiga hari kami tidak menemukan suatu makanan pun di dalam rumah.”

‘Ali RA berkata: “Mengapa engkau tidak menceritakannya kepadaku?”

Fatimah menjawab: “Sesungguhnya ayahku, Rasulullah SAW telah berpesan kepadaku pada malam pernikahanku: ‘Wahai Fatimah, jika ‘Ali datang kepadamu dengan membawa suatu makanan, makanlah ia. Akan tetapi, jika ia tidak membawa sesuatu pun, janganlah engkau memintaanya.’

Akan tetapi, kebanyakan wanita mempunyai keahlian khusus dalam mengosongkan kantong-kantong suami mereka. 
Seseorang diantara mereka tidak dapat menahan diri bila melihat dalam kantong suaminya ada sejumlah uang, maka saat itu ia langsung menimbulkan keadaan darurat di dalam rumah dan masih belum reda sebelum dapat menguras semua uang yang ada dalam kantong suaminya.

   Tidak diragukan lagi bahwa bila seorang suami sekali menyerah pada keadaan, dia tidak akan mau mengangkat bendera putih tanda damai, melainkan dalam suatu waktu pasti akan berkobar persengketaan yang sengit antara dia dan istrinya. 
Adakalanya pula persengketaan ini terus berkembang sampai ada perceraian. 
Bila sudah sampai pada stadium ini, sang suami pasti akan mendendangkan bait-bait syair orang Arab Badui berikut yang terbebas dari cengkraman ketamakan istrinya, Umamah , dengan menceraikannya, sesudah cukup lama ia menderita dan sengsara karena selalu diperas olehnya:

Kubungkam Umamah dengan menceraikannya
Dan aku selamat dari belenggu yang membebaniku

Dia telah berpisah dariku sehingga hatiku tidak sakit lagi
Dan kelopak mataku tidak lagi mengalirkan air mata

Dan penawar bagi sesuatu yang tidak diinginkan oleh diri
Adalah dengan menyegerakan berpisah dengannya

Hidup ini tidak enak bagi sepasang suami istri
Bila antara keduanya sudah tidak ada kecocokan lagi


Hidup ini cukup singkat untuk kita perpendek. 
Karenanya, janganlah anda mencoba untuk lebih mempersingkatnya lagi.

Artikel Menarik Lainnya:

Berlindunglah kepada Allah dari kesusahan dan kesedihan

Seandainya semua wanita seperti orang yang kita kenal, tentulah aku lebih memprioritaskan kaum wanita atas kaum laki-laki. 

(Al-Mutanabbi saat meratapi kematian ibunya Saifud Daulah, salah seorang khalifah ‘Abbasiyyah. pent.)

   Saya meragukan bila ada orang yang berakal mau kikir senyum, atau seorang mukmin yang cenderung bersikap pesimistis dan putus asa. 
Akan tetapi, memang adakalanya seseorang itu dikalahkan oleh peristiwa insidentil yang membuatnya tertekan sehingga ketenangan dan keridhaannya hilang dari dalam dirinya. 
Dalam keadaan seperti ini, seseorang harus berpegang teguh pada Allah SWT agar Dia menyelamatkannya dari musibah yang menimpa. 

  Sesungguhnya menyerah terhadap arus kedudukan merupakan permulaan keterpurukan yang menyeluruh dalam pengendalian diri yang bersangkutan, sehingga semua pekerjaan yang ditanganinya berakhir dengan kegagalan dan ketidak-berdayaan. 

  Untuk itu, Rasulullah SAW mengajarkan kepada sahabat-sahabatnya agar meminta pertolongan kepada Allah SWT supaya menyelamatkan dirinya dari berbagai bencana seperti ini. 
Abu Sa’id Al-Khudri telah menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW masuk ke dalam masjid. 
Tiba-tiba beliau bersua dengan seorang lelaki dari golongan Anshar yang dikenal dengan nama Abu Umamah,
lalu beliau bertanya: “Wahai Abu Umamah, mengapa engkau duduk didalam masjid diluar waktu shalat?” 

Abu Umamah menjawab: “Wahai Rasulullah, saya bersedih karena utang-utangku banyak.”

Rasulullah SAW bertanya: “Maukah kuajarkan kepadamu suatu doa yang bila engkau mengucapkannya, tentu Allah akan melenyapkan semua kesusahanmu dan melunaskan semua utangmu?”

Abu Umamah menjawab: “Tentu, saya mau, wahai Rasulullah.”

Beliau SAW pun bersabda: “Jika engkau berada pada pagi hari dan petang hari, ucapkanlah doa berikut: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari kesusahan dan kesedihan. Aku berlindung kepada Engkau dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepada Engkau dari sifat kikir dan pengecut. Aku berlindung kepada Engkau dari terbelit utang dan tertindas oleh orang lain.’ (HR. Abu Dawud) 

Abu Umamah mengatakan: “Lalu kulakukan hal tersebut, maka Allah pun melenyapkan kesusahanku dan melunaskan semua utangku.”


Sesungguhnya infeksi pencernaan bukan disebabkan karena makanan yang anda konsumsi, melainkan karena sesuatu yang memakan (kesehatan) anda.

Artikel Menarik Lainnya:

Ads


Populer